Kartini dan Emansipasi yang Tak Lekang oleh Zaman: Perjuangan yang Belum Usai

 

Jurnis.id - Raden Ajeng Kartini masih dianggap sebagai tokoh penting dalam perjuangan emansipasi perempuan di Nusantara hingga saat ini. Berasal dari Jepara, Jawa Tengah, pada akhir abad ke-19, Kartini secara konsisten menantang norma patriarki yang membatasi akses perempuan terhadap pendidikan dan kebebasan sosial.

Perjuangan ini bermula dari keprihatinan pribadi Kartini terhadap perbedaan nasib antara laki-laki dan perempuan pada masa kolonial Belanda. Karena aturan dan adat istiadat pingitan yang ketat pada masa itu, perempuan tidak memiliki hak untuk menempuh pendidikan tinggi atau sekadar menentukan jalan hidupnya sendiri. Kartini terus berpikir kritis tentang kesetaraan gender melalui ratusan surat kepada sahabat-sahabat penanya di Belanda, salah satunya Rosa Abendanon.

Gagasan tajam tersebut tidak berhenti pada tataran teori. Kartini merealisasikan mimpinya dengan mendirikan sekolah khusus perempuan pertama di Jepara dan Rembang, yang mengajarkan kemampuan membaca, menulis, hingga keterampilan dasar lainnya.

Melalui pemikirannya yang kelak dibukukan dalam karya fenomenal Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang), Kartini membuktikan bahwa perempuan berhak maju dan berkontribusi nyata bagi peradaban. Hingga saat ini, semangat juangnya terus menjadi fondasi pergerakan perempuan Indonesia di berbagai sektor.

Visi emansipasi Kartini lebih dari sekadar akses pendidikan. Hal ini juga mencakup kemandirian ekonomi, kebebasan berpendapat, dan kesetaraan hukum bagi perempuan. Ia berpendapat bahwa perempuan yang teredukasi akan menjadi guru pertama yang cerdas bagi generasi penerus bangsa.

Dikutip dari Kompas.com, pemikiran kritisnya menginspirasi kaum pendukungnya mendirikan Yayasan Kartini pada tahun 1912. Yayasan tersebut kemudian mendirikan “Sekolah Kartini” di berbagai kota, seperti Semarang, Surabaya, Malang, dan Cirebon.

Kini, esensi perjuangan Kartini tetap relevan dalam konteks modernisasi. Perjuangannya tidak lagi sekadar membebaskan perempuan dari tradisi pingitan, melainkan memastikan kesetaraan akses di ranah publik, kepemimpinan politik, ilmu pengetahuan, hingga dunia profesional.

Semakin banyak perempuan Indonesia yang menduduki posisi strategis saat ini membuktikan bahwa cita-cita Kartini bukanlah angan kosong, melainkan sebuah realitas yang terus bertumbuh. Atas dedikasinya yang melampaui zaman, Pemerintah Indonesia secara resmi menetapkan R.A. Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada tahun 1964, sekaligus menjadikan tanggal lahirnya, 21 April, sebagai hari peringatan nasional.


****

Redpel : Byn

Penulis : Ila

Sumber : Kompas.com

Foto : Wikipedia Commons

Komentar

Postingan Populer