60 Tahun Tanpa Kantin, UNIS Kini Resmikan Nesto Sosial

 


Jurnis.id - Setelah 60 tahun berdiri tanpa kantin permanen sejak 1966, Universitas Islam Syekh Yusuf (UNIS) di Tangerang akhirnya meresmikan kantin pertamanya pada Selasa (14/4/2026). Kantin tersebut terletak di lantai 1 Gedung Muhammad Astary. 

Acara peresmian dihadiri oleh mahasiswa, dosen, serta pimpinan kampus. Sebelumnya, mahasiswa biasa memanfaatkan warung di pinggir kampus atau membawa bekal sendiri, yang terkadang merepotkan.

Keberadaan kantin sebagai ruang terbuka menjadikannya tempat yang inklusif bagi seluruh mahasiswa, tidak hanya sebagai tempat makan dan bersantai, tetapi juga sebagai pusat interaksi dan dinamika kehidupan kampus yang mampu menciptakan kebersamaan serta solidaritas yang kuat.

Menurut pembawa acara, inti filosofi “Nesto Sosial”, kantin baru di UNIS, adalah bahwa Nesto Sosial bukan sekadar tempat makan, melainkan ruang bagi mahasiswa untuk berjuang bersama, saling berbagi ide, serta menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar sebagai pusat multifungsi untuk bersantai, bekerja kelompok, hingga makan bersama yang melengkapi fasilitas kampus.

Nesto Sosial menyediakan makanan terjangkau dan tempat duduk untuk kebutuhan sehari-hari, serta menghadirkan solusi lengkap berupa aneka kuliner tradisional dan modern dengan harga ramah mahasiswa, serta panggung kecil untuk hiburan, sehingga siap mengubah rutinitas harian ribuan warga kampus menjadi lebih nyaman dan produktif.

Bram Ahmad Satria, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Program Studi Administrasi Publik, menyambut positif kehadiran kantin ini sebagai ruang multifungsi. “Pembukaan kantin baru di UNIS ini bagus untuk nongkrong, kerja kelompok, atau makan bersama teman karena melengkapi fasilitas kampus yang sebelumnya kalah lengkap dibandingkan kampus lain,” ujarnya.

Ia menilai harga makanan yang ditawarkan terjangkau dan sepadan untuk konsumsi harian, meskipun hal tersebut merupakan pandangan pribadi. “Kantin ini bisa menjadi game changer bagi kehidupan kampus ke depan jika terus dikembangkan, sehingga mahasiswa tidak perlu keluar jauh untuk berbelanja atau makan,” tambah Bram.

Sementara itu, pedagang Dewi Kurniati yang berjualan di Kantin Alea menawarkan makanan tradisional seperti camilan dan ayam gepuk dengan harga ramah di kantong, mulai dari Rp1.000 hingga maksimal Rp15.000. “Cocok sekali untuk mahasiswa,” katanya.

Dewi meyakini kantin ini dapat menjadi tujuan favorit jika dikembangkan dengan memperhatikan tiga hal “Pertama, menjaga kualitas makanan agar tetap terjangkau, kedua, memperhatikan kebersihan agar nyaman, ketiga, menambahkan hiburan agar tidak bosan hanya untuk makan,” ujarnya.

Dengan filosofi Nesto Sosial yang inklusif serta dukungan dari mahasiswa dan pedagang, kantin baru UNIS berpotensi menjadi ruang baru yang dinamis di lingkungan kampus. Pengembangan berkelanjutan diharapkan mampu mewujudkan tempat ini sebagai pusat solidaritas dan kenyamanan bagi seluruh warga UNIS.


*****

Redpel : By

Penulis : Aden

Komentar