Komunitas Jalan Kaki Muncul sebagai Respons Burnout

 


Jurnis.id - Media sosial selama ini memuja kecepatan. Catatan pace, jarak tempuh puluhan kilometer, dan perlengkapan lari canggih menjadi tolok ukur kebugaran baru. Namun, memasuki awal 2026, arah itu mulai bergeser. Komunitas jalan kaki muncul sebagai antitesis dari budaya olahraga yang kian kompetitif. Tanpa target waktu dan tekanan prestasi, mereka memilih berjalan sederhana, namun bermakna.

Pergeseran ini bukan sekadar tren, melainkan respons atas kelelahan kolektif. Budaya hustle yang terus menuntut produktivitas memicu burnout, bahkan dalam aktivitas fisik. Laporan Strava Desember 2025 mencatat jalan kaki sebagai aktivitas olahraga terpopuler kedua. Bagi banyak orang, berjalan kaki menjadi cara tetap aktif tanpa terbebani angka dan pencapaian.

Stigma jalan kaki sebagai aktivitas orang tua pun perlahan luntur. Di tahun 2026, berjalan kaki tampil lebih estetik dan inklusif. Trotoar kota diramaikan penjelajah urban, pegiat silent walking, hingga mereka yang sekadar ingin hadir sepenuhnya tanpa distraksi gawai. Tanpa syarat perlengkapan mahal atau tubuh atletis, jalan kaki menjadikan ruang publik sebagai tempat bertemu yang setara.

Fenomena ini turut mendapat sambutan positif dari pemerintah. Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menilai jalan kaki sebagai alternatif kebugaran yang menyehatkan sekaligus ramah bagi kesehatan mental.

Di tengah dunia yang menuntut segalanya serba cepat, keberanian untuk melambat menjadi kemewahan. Melalui langkah-langkah sederhana, tren jalan kaki mengajak manusia kembali mengamati sekitar, bernapas lega, dan menemukan makna bergerak tanpa harus berlari.


••••

Penulis: Naufal

RedPel: Eich

••••

Sumber: AntaraNews, StravaPress

Komentar