Lewat September Hitam, Mahasiswa UNIS Kembali Mengenang Peristiwa HAM
Jurnis.id - Acara September Hitam digelar di Basement Universitas Islam Syekh-Yusuf (UNIS) Tangerang, Senin (28/9/2026). Kegiatan yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Unis Tangerang ini mengangkat tema “Sejarah Dihapus, Korban Dilupakan, Kebenaran Dipertanyakan".
Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk kembali mengenali berbagai peristiwa sejarah dan isu hak asasi manusia (HAM). Melalui sejumlah rangkaian acara, mahasiswa diajak mengingat peristiwa masa lalu serta mengenang para korban yang terdampak.
Rangkaian kegiatan September Hitam meliputi tari, orasi, musikalisasi puisi, dan bedah film. Selain menjadi ruang pertunjukan, kegiatan tersebut juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berdiskusi dan memahami isu sejarah serta kemanusiaan dari berbagai sudut pandang.
Ketua Umum BEM Fakultas Hukum UNIS, Relic Ramadhan Putra Priyatna, menyampaikan bahwa orasi yang dibawakannya bertujuan memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai berbagai tragedi yang terjadi pada bulan September.
Menurut Relic, pembahasan September Hitam tidak hanya berkaitan dengan peristiwa 30 September, kasus Munir, atau tragedi Semanggi, tetapi juga berbagai peristiwa lainnya, termasuk kasus Pendeta Yeremia di Papua yang menurutnya masih belum banyak diketahui masyarakat. “Harapan saya setelah mahasiswa mendengarkan orasi yang saya sampaikan adalah mereka tidak hanya mendengarkan, tetapi juga memahami dan mempelajarinya lebih lanjut,” ujar Relic.
Ia juga menilai mahasiswa memiliki peran penting dalam menyampaikan pendapat dan mengawasi berbagai persoalan sosial. Menurutnya, mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat memiliki tanggung jawab untuk berpikir kritis terhadap isu yang terjadi di lingkungan sekitar.
Sementara itu, Rizky Nurul Iman Setiawan, salah satu peserta dari Kasospol FISIP, mengatakan bahwa ketertarikannya mengikuti September Hitam karena banyak peristiwa sejarah, khususnya terkait pelanggaran HAM, yang perlu kembali dipelajari dan diingat. “Saya ingin mengikuti September Hitam karena ada banyak sejarah yang penting untuk kita kenang. Banyak korban yang seharusnya kita kenang dan pelajari lebih dalam, terutama mengenai pelanggaran hak asasi manusia yang pernah terjadi,” ucapnya.
Menurut Rizky, rangkaian acara yang diselenggarakan cukup menarik karena mahasiswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk belajar dan berdiskusi. Ia berharap kegiatan seperti September Hitam dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan. “Semoga September Hitam ini bisa terus berkelanjutan. Hal-hal positif seperti ini harus kita ingat dan jangan sampai kita lupa,” tuturnya.
Melalui perpaduan edukasi, seni, orasi, dan diskusi, kegiatan September Hitam di UNIS Tangerang menjadi ruang bagi mahasiswa untuk merefleksikan kembali berbagai peristiwa sejarah. Semangat “Menolak Lupa” dan “Merawat Ingatan” menjadi pesan utama yang disampaikan agar mahasiswa terus mempelajari sejarah dan mengingat para korban.
****
Redpel : Byn
Penulis : Aden




Komentar
Posting Komentar