Mindfulness, Berita Buruk, dan Perdebatan tentang Kepedulian di Tengah Krisis

 




Jurnis.id - Istilah mindfulness belakangan menjadi topik perbincangan hangat di media sosial setelah figur publik viral membagikan pandangannya terkait cara menghadapi gelombang berita buruk (bad news). Meskipun ditujukan sebagai edukasi kesehatan mental, unggahan tersebut memicu diskusi publik mengenai makna mindfulness dan batas penerapannya di tengah realitas krisis.


Secara harfiah, mindfulness merupakan praktik psikologis yang melatih seseorang untuk hadir sepenuhnya pada momen saat ini (present moment) dengan menyadari pikiran, perasaan, dan sensasi tubuh tanpa memberikan penilaian (non-judgmental). Konsep ini berasal dari tradisi meditasi Timur yang kemudian diadopsi dalam psikologi modern sebagai salah satu teknik untuk mengelola emosi dan mengurangi stres.


Dikutip dari alodokter, para ahli psikologi kerap menyarankan mindfulness untuk membantu mencegah compassion fatigue, yaitu kondisi kelelahan emosional akibat terlalu sering terpapar trauma atau berita duka secara tidak langsung. Melalui pendekatan ini, seseorang dapat mengatur konsumsi informasi, termasuk dengan melakukan detoksifikasi digital (digital detox), agar kesehatan mental tetap terjaga dan tidak mudah mengalami tekanan psikologis.


Penerapan mindfulness dalam merespons krisis sosial dan ekonomi sering memicu kritik karena dinilai berpotensi mengarah pada toxic positivity, yaitu kecenderungan untuk mempertahankan sikap positif secara berlebihan. Ketika suatu masalah membutuhkan solusi konkret di dunia nyata, ajakan untuk sekadar menerima dan mengelola pikiran dianggap dapat mereduksi kompleksitas persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.


Perdebatan yang berkembang di linimasa menyoroti bahwa mindfulness pada dasarnya merupakan sarana untuk membantu individu mengelola kondisi psikologis, bukan alat untuk menyelesaikan persoalan struktural. Imbauan untuk menarik diri sejenak dari paparan berita buruk juga kerap dipersepsikan sebagai bentuk privilese yang hanya dapat dilakukan oleh kelompok masyarakat yang tidak terdampak langsung oleh suatu musibah.


Di sisi lain, pakar kesehatan mental menekankan bahwa mindfulness tidak seharusnya diartikan sebagai sikap acuh tak acuh atau apatis terhadap penderitaan orang lain. Kunci dari penerapan mindfulness yang sehat justru terletak pada self-compassion atau welas asih terhadap diri sendiri, yang kemudian dapat diwujudkan melalui tindakan empati yang lebih jernih dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar.


Fenomena ini pada akhirnya memberikan pelajaran penting bagi publik dan para influencer. Pemahaman yang utuh mengenai mindfulness membutuhkan kesadaran terhadap konteks. Menjaga kestabilan kondisi psikologis pribadi merupakan hal penting, tetapi empati dan tindakan nyata terhadap realitas sosial di lapangan juga tidak boleh diabaikan.


****

Redpel : Byn

Penulis : Ina

Sumber : alodokter

Foto :

Komentar

Postingan Populer