Di Balik 1.065 Toga Wisuda UNIS, Ada Doa dan Perjuangan Orang Tua

 


Jurnis.id - Universitas Islam Syekh Yusuf (UNIS) Tangerang mewisuda 1.065 lulusan program sarjana (S1) dan magister (S2) dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-51 di Hall Nusantara, ICE BSD, Tangerang, Selasa (27/10/2026). Jumlah tersebut terdiri atas 635 lulusan S1 dan 430 lulusan S2.


Para pemangku kepentingan sepakat bahwa wisuda bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal perjuangan di tengah masyarakat. Pesan tersebut disampaikan oleh Rektor UNIS, Ketua Yayasan Islam Syekh Yusuf, dan Wakil Wali Kota Tangerang di hadapan para lulusan, keluarga, serta tamu undangan.


Rektor UNIS, Prof. Dr. H. Mustofa Kamil, DIP, RSL, M.Pd., mengingatkan para wisudawan bahwa mereka memasuki era disrupsi yang ditandai dengan Revolusi Industri 4.0 dan perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Menurutnya, ijazah merupakan bekal awal untuk terus belajar dan menghadapi perubahan melalui inovasi berkelanjutan, termasuk peningkatan keterampilan (upskilling) dan pembelajaran keterampilan baru (reskilling). Ia juga mengajak para lulusan meneladani semangat pantang menyerah Syekh Yusuf dalam menghadapi berbagai rintangan.


Rektor menegaskan bahwa menuntut ilmu merupakan komitmen sepanjang hayat yang bernilai ibadah. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa jalan menuntut ilmu merupakan jalan menuju surga. Pada akhir sambutannya, ia mengajak hadirin mendoakan para orang tua dan dosen yang telah wafat serta berjasa dalam perjalanan akademik mahasiswa. Ia juga berpesan agar para lulusan senantiasa menjaga nama baik almamater.


Ketua Yayasan Islam Syekh Yusuf, Dr. Ir. H. M. Firdaus, M.Si., menyampaikan bahwa wisuda bukan sekadar seremoni, melainkan hasil dari ketekunan, doa, dan perjuangan panjang. Menurutnya, di balik toga yang dikenakan para lulusan, terdapat malam-malam panjang untuk belajar, doa yang tidak pernah putus, serta dukungan orang tua dan keluarga.


Ia menekankan tiga kompetensi yang perlu dimiliki para lulusan, yaitu think (berpikir kritis dan memecahkan masalah), learn (beradaptasi dan terus belajar), serta lead (memimpin dengan keterampilan yang humanis). Di tengah perkembangan teknologi dan AI, ia mengingatkan para lulusan agar terus meningkatkan kemampuan di luar pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan. Ia berharap para lulusan tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berakhlak mulia, serta mampu memberikan kontribusi bagi bangsa dan agama.


Dari unsur pemerintah, Wakil Wali Kota Tangerang, H. Mariono Hasan, A.P., M.Si., yang mewakili Wali Kota Tangerang, mengakui bahwa meraih gelar akademik bukanlah perjalanan yang mudah. Pencapaian tersebut membutuhkan waktu, tenaga, pikiran, serta doa dan dukungan orang tua. Ia mengajak para lulusan untuk tidak takut menghadapi tantangan, tetap fokus pada cita-cita, dan menjalani fase kehidupan berikutnya, baik dengan berkarier, membangun usaha, melanjutkan studi, maupun mengabdi kepada masyarakat.


Ia juga berharap para wisudawan tetap berpegang pada nilai-nilai ketuhanan dan ajaran agama yang diperoleh selama menempuh pendidikan di UNIS. Sambutannya ditutup dengan pantun yang mengajak para lulusan membuktikan gelar akademik melalui karya dan kontribusi nyata bagi masyarakat.


Sejak pagi, Hall Nusantara dipenuhi ribuan orang. Para wisudawan dan wisudawati yang mengenakan toga berkumpul bersama keluarga dan tamu undangan untuk merayakan berakhirnya perjalanan panjang di bangku kuliah. Di berbagai sudut ruangan, para lulusan berfoto bersama keluarga dan teman seangkatan. Ada yang saling merapikan toga, berpelukan, hingga menyeka air mata. Hari itu bukan hanya menjadi momen istimewa bagi para lulusan, tetapi juga bagi orang-orang yang selama ini mendampingi perjalanan mereka.


Bagi Pingkan Sodriatul Alamiyah, lulusan Fakultas Pendidikan Agama Islam, wisuda menjadi puncak penantian selama empat tahun yang penuh warna. “Wisuda hari ini benar-benar bermakna dan berarti banget buat aku. Perjalanannya banyak nangis, ketawa, sedih, dan akhirnya kita bareng-bareng bisa wisuda bersama di sini,” ujarnya.


Pingkan mengaku bahwa tantangan terbesarnya selama kuliah adalah menghadapi mata kuliah yang sulit dan ujian lisan. Namun, ia yakin dapat melewatinya karena sebelumnya telah menghadapi berbagai tantangan berat. Ia juga merasa ilmu yang diperoleh selama kuliah dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kepada mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, Pingkan berpesan agar tidak memendam beban sendirian. “Perlu sharing ke teman atau keluarga supaya nggak sendirian banget. Semangat terus, teman-teman,” katanya.


Semangat serupa disampaikan Rifsyah Rahmi, yang akrab disapa Ica. Ia mengaku menemukan potensi dirinya melalui kegiatan jurnalistik di kampus. “Lewat jurnalistik aku melihat potensi diri. Ternyata aku bisa lancar public speaking, dan bisa mengasah skill reporter, menulis, serta storytelling,” jelasnya.


Saat ini, Ica sedang menjalani program magang selama enam bulan. Setelah menyelesaikannya, ia berencana mendaftar sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Menurutnya, keterampilan yang diasah melalui organisasi kampus sangat bermanfaat untuk menghadapi dunia kerja. Ia pun berpesan kepada mahasiswa tingkat bawah agar tetap bersemangat. “Jangan patah semangat, karena ilmu dari perkuliahan itu akan bermanfaat di dunia luar,” pesannya.


Di tengah kemeriahan wisuda, kisah ibu seorang pedagang kecil yang berhasil mengantarkan anak-anaknya menempuh pendidikan tinggi, Anggawati menjadi potret perjuangan keluarga di balik keberhasilan para lulusan. Putra bungsunya, Anggara Satria Pamungkas, turut diwisuda pada hari itu. Sementara itu, putri keduanya, Dewi Ratnasari, telah lebih dahulu menyelesaikan pendidikan S1 di UNIS dan kini mengajar di kampus tersebut setelah menamatkan pendidikan S2 di UIN. Adapun putri sulungnya telah berprofesi sebagai bidan.


Anggawati mengaku merasakan berbagai emosi saat menyaksikan putranya diwisuda. “Bangga, sedih, senang, banyak liku-likunya. Yang paling sedih itu soal biaya, soalnya hidup saya setengah nggak punya,” ucapnya.


Perjalanan tersebut tidak mudah. Anggawati mengaku sempat menjadi bahan pembicaraan tetangga karena tetap bersikeras menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi meskipun hanya berjualan gorengan. Berasal dari keluarga petani, Anggawati tidak sempat mewujudkan cita-citanya menjadi guru. Namun, cita-cita tersebut seolah terwujud melalui putrinya, Dewi, yang kini mengajar di UNIS. “Pendidikan itu nomor satu buat saya, biar masa depan mereka sukses. Walaupun saya orang nggak punya, selalu diusahakan dari mana aja. Pribadi mah nggak dipikirin, yang penting anak saya sukses,” tuturnya.


Ia berharap anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang sukses dan tetap rendah hati. “Pengen jadi anak yang sukses, yang sabar, jangan yang sombong,” tutupnya.


Kisah Anggawati menunjukkan bahwa di balik setiap toga terdapat doa, pengorbanan, dan kerja keras keluarga yang tidak selalu terlihat di atas panggung. Bagi 1.065 wisudawan dan wisudawati UNIS Tangerang, wisuda menjadi penutup perjalanan akademik sekaligus awal langkah baru untuk berkarya dan berkontribusi di tengah masyarakat.


Wisuda ke-51 UNIS Tangerang menjadi momentum bagi 1.065 lulusan untuk memulai perjalanan baru di tengah masyarakat. Di balik pencapaian tersebut, terdapat perjuangan panjang, dukungan keluarga, serta bekal ilmu dan keterampilan yang diperoleh selama perkuliahan. Kisah para wisudawan dan orang tua juga menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari gelar akademik, tetapi juga dari keberanian menghadapi tantangan, semangat untuk terus belajar, dan kemauan memberikan manfaat bagi sesama.


****

Redpel : Byn

Penulis : Bagas

Komentar

Postingan Populer