Fenomena Downgrade Gaya Hidup, Warga Pilih Fungsional Ketimbang Gengsi

 


Jurnis.id– Mobil yang lebih hemat, bekal dari rumah, hingga berkurangnya kebiasaan nongkrong di kafe. Bagi sebagian masyarakat kelas menengah di Jabodetabek, pilihan-pilihan tersebut kini menjadi cara untuk menjaga pengeluaran di tengah tekanan ekonomi.

Jika sebelumnya gaya hidup kerap identik dengan nongkrong di kafe, berbelanja di mal, dan menggunakan kendaraan mewah sebagai simbol status, kini sebagian warga justru mulai menurunkan standar konsumsi mereka. Fenomena yang dikenal sebagai downgrade lifestyle ini ramai dibagikan di media sosial dalam beberapa pekan terakhir.

Perubahan tersebut bukan berarti masyarakat berhenti membeli atau memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka justru mulai mempertimbangkan kembali pilihan konsumsi dengan beralih ke alternatif yang lebih terjangkau.

Mobil SUV, misalnya, diganti dengan kendaraan berbiaya lebih rendah seperti *low cost green car (LCGC). Untuk mobilitas harian, sepeda motor menjadi pilihan demi menghemat biaya bahan bakar dan pajak kendaraan. Kebiasaan makan di restoran juga mulai berkurang, digantikan dengan membawa bekal dari rumah. Sementara itu, frekuensi nongkrong dan berlibur turut dipangkas.

Di balik perubahan pilihan tersebut, terdapat pertimbangan yang lebih besar daripada sekadar berhemat. Pengeluaran rumah tangga perlu disesuaikan agar kebutuhan utama dan kewajiban finansial tetap dapat dipenuhi.

Ekonom Universitas Gadjah Mada, Wisnu Setiadi Nugroho, menyebut fenomena ini sebagai respons yang rasional. Ketika inflasi menggerus pendapatan dan daya beli melemah, rumah tangga cenderung melakukan consumption smoothing, yaitu menyesuaikan pola konsumsi untuk menjaga kestabilan pengeluaran. Kebutuhan pokok, seperti makanan, pendidikan anak, dan kesehatan, tetap diprioritaskan, sedangkan kebutuhan sekunder yang masih dapat ditunda menjadi bagian yang lebih dahulu dikurangi.

Fenomena ini juga berkaitan dengan istilah downshifting, yakni pilihan untuk menjalani hidup yang lebih sederhana demi ketenangan finansial dan kualitas hidup yang lebih seimbang. Dalam praktiknya, kesederhanaan tidak selalu berarti kehilangan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan, tetapi dapat menjadi keputusan sadar untuk mengubah prioritas.

Pada akhirnya, ukuran gaya hidup yang dianggap ideal pun mulai bergeser. Kepemilikan barang dan kebiasaan konsumsi yang sebelumnya dapat menjadi simbol status tidak lagi selalu menjadi prioritas. Bagi sebagian warga, kendaraan yang lebih hemat, pengeluaran yang terkendali, dan kebutuhan keluarga yang terpenuhi justru terasa lebih penting daripada mempertahankan gengsi.

Di tengah ketidakpastian ekonomi, downgrade lifestyle menjadi salah satu cara masyarakat beradaptasi. Pilihan untuk hidup lebih sederhana bukan semata-mata tentang mengurangi pengeluaran, melainkan juga tentang menentukan hal-hal yang benar-benar dibutuhkan dan menjaga keuangan rumah tangga agar tetap bertahan.


***

Penulis: Tasya

Redpel: Rh

Sumber: Kompas.com 

Sumber Foto: Pinterest

Komentar