Keterlambatan KPU-K UNIS Terjawab, PEMIRA Mahasiswa Resmi Dimulai
Jurnis.id — Komisi Pemilihan Umum Kampus (KPU-K) Universitas Islam Syekh Yusuf (UNIS) Tangerang membuka pendaftaran pada hari ini dan besok, yang akan diikuti langsung dengan tahap verifikasi data. Persiapan kegiatan pemilihan telah disusun dengan baik, dengan kerja sama yang terjalin dengan UMT untuk peminjaman perangkat pemilu serta KPU Kota.
Kepala Bagian Kemahasiswaan, Jujuk, mengungkap kronologi keterlambatan pembentukan KPU-K yang seharusnya terbentuk tahun lalu, baru terealisasi tahun ini menjelang Pemilihan Raya Mahasiswa (Pemira). Menurutnya, KPU-K sebelumnya bubar karena ketua mundur untuk maju sebagai calon tanpa ada pengganti, meskipun pihak kampus telah memanggil berkali-kali untuk menyelesaikan masalah tersebut. Pembentukan KPU-K baru didorong oleh Wakil Rektor 1 Pak Dr. Joko Rianto SE., MM., melalui rapat perwakilan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) yang awalnya berencana melakukan musyawarah langsung, namun akhirnya sepakat untuk membentuk KPU-K yang baru.
Tujuan utama dari kegiatan ini adalah mencari pemimpin yang layak dan mampu membenahi berbagai permasalahan yang ada di Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM-U) dan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA). "Kita fokus cari pemimpinnya, insyaallah kita buat tujuannya untuk ke situ," ujar Akbar selaku Ketua Pelaksana KPUK.
Keterlambatan pembentukan KPU-K berdampak pada beberapa aspek legitimasi, seperti undangan kegiatan eksternal yang harus dialihkan ke BEM Fakultas atau mahasiswa anggota Kartu Indonesia Pintar (KIP) agar tetap terpenuhi. Kampus berkomitmen menjaga independensi KPU-K, dengan pengawasan melalui rundown kegiatan serta alokasi dana proposal sebesar Rp7 juta untuk kegiatan mulai dari debat (yang akan digelar 11 Februari) hingga proses pelantikan pemimpin terpilih.
Untuk mengantisipasi segala kemungkinan, panitia akan selalu ada di sekretariat KPU-K yang berlokasi di gedung Muhammad Astari lantai 2 (bekas gedung Bank BSI) untuk melakukan koordinasi dan diskusi. Pihak KPU-K menyampaikan bahwa perlu adanya dorongan terhadap mahasiswa UNIS, mengingat sudah lama tidak ada kepemimpinan yang jelas di BEM-U dan DEMA. Banyak mahasiswa, terutama yang baru masuk, belum mengetahui siapa saja pemimpin sebelumnya serta fungsi dari BEM-U dan DEMA.
"Organisasi di kampus adalah miniatur negara. Begitu pula dengan pemilihan ini, meskipun tidak masuk organisasi, mahasiswa tetap dinaungi olehnya. Oleh karena itu, jangan ragu untuk memilih, karena hal itu berkaitan dengan bagaimana kalian akan dinaungi dan dilindungi sebagai mahasiswa," jelas Akbar.
Kepala Bagian Kemahasiswaan, Jujuk, juga menekankan pentingnya menghindari gejolak pasca-Pemira, memilih pemimpin dengan sikap baik, transparan, dan bijaksana yang diibaratkan seperti presiden bagi mahasiswa, karena menjadi bekal berharga untuk karir di masa depan.
Harapannya, seluruh alur kegiatan dapat berjalan lancar tanpa hambatan, kerja sama dengan pihak luar dapat berjalan dengan baik, serta seluruh proses akan selalu dilakukan secara transparan dengan pembaruan informasi yang terus diperbarui di Instagram @kpuk.unis. Di samping itu, Pemira yang lancar diharapkan dapat menghasilkan representasi BEM dan DEMA yang mampu berperan aktif dalam kegiatan luar kampus.
••••
Penulis: aien
RedPel: Eich




Komentar
Posting Komentar